<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="0.92">
<channel>
	<title>jejak kata</title>
	<link>http://diksi.blogsome.com</link>
	<description>sebuah jejak langkah jiwa dalam kelana</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 May 2008 09:27:14 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>

	<item>
		<title>intermezouli</title>
		<description>	sudah lama sekali tak ku jamah blog ini,entah karena jemu atau tak ada lagi yang mampu keluar dari kelenjar otakku, 
	kinipun, dengan tertatih-tatih jari ini mengetik papan keyboard, berharap ada kata yang tiba-tiba terlintas di kepala dan tertuang di layar.
	entahlah, menulis dengan hati atau kepala pun kini serasa rumit, serumit ...</description>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2008/05/15/intermezouli/</link>
	</item>
	<item>
		<title>akhir kisah</title>
		<description>	dan,
kisah kita pun berakhir diujung pelangi &#8230;
rasa  yang kau belah telah kau suntingkan di hariku
esok hari kembalikan pada cintamu
yang menanti diujung waktumu..
tak ada hati yang terluka lagi
karena  api permainan yang telah padam 
	entah apa yang tersisa,
untai lagu mengiring dosa termanis?
atau sejengkal sesal
pada rasa yang tak kekal 
 </description>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2007/01/07/akhir-kisah/</link>
	</item>
	<item>
		<title>masih saja&#8230;</title>
		<description>	Masih saja ku tabur bunga dipadang yang tak kan kusemai masih saja hingar bingar merajai entah jalang entah lalai tapi aku hanya ingin damai 
	malam ini bunga itu untuk muhanya malam ini biarkan malam ini ku labuhkan hati hanya malam ini esok pagi kembali lah ke pangkuan cintamu yang malam ...</description>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2007/01/04/masih-saja/</link>
	</item>
	<item>
		<title>hari ini tak ada puisi</title>
		<description>	Hari ini tak ada puisi,
karena semua kata telah tercuri,
dan yang tersisa hanyalah sepatah kata caci
itupun masih terlalu indah untuk hari ini 
	Hari ini tak ada puisi,
setelah badai yang tertuai
tapi benarkah badai?
bukankah tak lebih dari ambisi 
	Hari ini tak ada puisi,
karena semua telah terenggut mimpi
tualang demi tualang tak lagi berarti
kembali kata ...</description>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/12/28/hari-ini-tak-ada-puisi/</link>
	</item>
	<item>
		<title>ingin ku bukan engkau..</title>
		<description>	&nbsp;ingin ku culik kembali kata cinta..yang telah terbuang di kubangan masa,ah, mungkin itu terlalu indah untuk kita  
	inginku rangkai kembali kebalau rindu,yang teronggok mati di kenang lalu,ah,mungkin itu terlalu syahdu untukmu
	ingin kulukis wajah itu di kanvas langit,yang kini selalu menatap sengit,ah, mungkin malah berujung pahit,   
	ternyata,pualam jiwa ...</description>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/12/12/ingin-ku-bukan-engkau/</link>
	</item>
	<item>
		<title>senja</title>
		<description>	Senja di kotaku &nbsp;
	Aku ingin merangkai seribu puisi, yang kutulis diatas dedaun beringin tua yang tak jemu bertengger di pusat alun-alun,kemudian memanggil burung-burung yang selalu berkunjung ke lengan kokoh sang beringin disilam waktu,tapi kini kotaku selalu sepi,dari burung-burung yang menemani kala senja, menyertai cinta bau kencur anak mudadan dedaun beringin ...</description>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/11/30/senja-jogja/</link>
	</item>
	<item>
		<title>televisi</title>
		<description>	Televisi hari ini
	Aku mematung didepan televisi, hari ini sepertinya televisiku menderita sekali.. Pagi tadi, luapan lumpur keluar dari kedua kupingnya yang tak lagi seimbang kiri dan kanan. Tak lama kemudian hidungnya yang pesek tersedak gumpalan asap tebal yang terhembus entah dari mana. Tak mungkin dari asap rokok murahan yang aku ...</description>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/11/29/televisi/</link>
	</item>
	<item>
		<title>celoteh</title>
		<description>	Celoteh pagi
	Pagi ini ibu menanak pasir, seperti hari-hari biasanya, tapi pasir pagi ini berasal  dari halaman tetangga sebelah. Pasir kami sendiri sudah habis, hanyut saat hujan awal bulan ini.
Warti, adikku yang terkecil sedang menumbuk batu bata, sebentar lagi dipakainya untuk gosok gigi.
Aku sendiri hanya mengumpulkan sedikit gedhek bambu,  ...</description>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/11/29/celoteh/</link>
	</item>
	<item>
		<title>puisi yang terluka</title>
		<description>	&nbsp; aku hanyalah puisi yang terluka, namun puisi terlanjur mencinta syair kemana puisi akan bersyair, saat kata tak lagi memakna gejolak yang menggegas kabur dalam pandang ragu, 
	&nbsp;ingin kembali kugali, makam sebuah hati yang menyatu bersama deru masa lalu
	namun langkah harus gontai mengekang asa, sementara rumput kering tak akan pernah ...</description>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/11/26/puisi-yang-terluka/</link>
	</item>
	<item>
		<title>mati..?</title>
		<description>	dancongkal batu karang itu pun luruh..bersama kilas malam dan rinai tawa&nbsp;
	yang pernah meniti hari bersulam janjikini waktu telah menjagal jiwa menikam tumbang kesombongan
	ternyata,mati hati hanya ilusidan kebahagiaan yang tak terucap,masihlah kutukan di fajar pagi
	kembali,lantunan itu berujung elegi,tentang sepotong hati disudut sepi, &nbsp;
	&nbsp;
	&nbsp;
 </description>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/11/16/mati/</link>
	</item>
</channel>
</rss>
