<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>jejak kata</title>
	<link>http://diksi.blogsome.com</link>
	<description>sebuah jejak langkah jiwa dalam kelana</description>
	<pubDate>Thu, 15 May 2008 09:27:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>intermezouli</title>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2008/05/15/intermezouli/</link>
		<comments>http://diksi.blogsome.com/2008/05/15/intermezouli/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 09:27:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diksi</dc:creator>
		
	<category>Saksi Mata</category>
		<guid>http://diksi.blogsome.com/2008/05/15/intermezouli/</guid>
		<description><![CDATA[	sudah lama sekali tak ku jamah blog ini,entah karena jemu atau tak ada lagi yang mampu keluar dari kelenjar otakku, 
	kinipun, dengan tertatih-tatih jari ini mengetik papan keyboard, berharap ada kata yang tiba-tiba terlintas di kepala dan tertuang di layar.
	entahlah, menulis dengan hati atau kepala pun kini serasa rumit, serumit integral dan differensial di bangku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>sudah lama sekali tak ku jamah blog ini,<br />entah karena jemu atau tak ada lagi yang mampu keluar dari kelenjar otakku, </p>
	<p>kinipun, dengan tertatih-tatih jari ini mengetik papan keyboard, berharap ada kata yang tiba-tiba terlintas di kepala dan tertuang di layar.</p>
	<p>entahlah, menulis dengan hati atau kepala pun kini serasa rumit, serumit integral dan differensial di bangku kuliah dulu, semasa kerumitan dan kesusahan adalah kawan baik, dalam arti yang sesungguhnya </p>
	<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diksi.blogsome.com/2008/05/15/intermezouli/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>akhir kisah</title>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2007/01/07/akhir-kisah/</link>
		<comments>http://diksi.blogsome.com/2007/01/07/akhir-kisah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jan 2007 16:35:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diksi</dc:creator>
		
	<category>Gejolak</category>
		<guid>http://diksi.blogsome.com/2007/01/07/akhir-kisah/</guid>
		<description><![CDATA[	dan,
kisah kita pun berakhir diujung pelangi &#8230;
rasa  yang kau belah telah kau suntingkan di hariku
esok hari kembalikan pada cintamu
yang menanti diujung waktumu..
tak ada hati yang terluka lagi
karena  api permainan yang telah padam 
	entah apa yang tersisa,
untai lagu mengiring dosa termanis?
atau sejengkal sesal
pada rasa yang tak kekal 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>dan,<br />
kisah kita pun berakhir diujung pelangi &#8230;<br />
rasa  yang kau belah telah kau suntingkan di hariku<br />
esok hari kembalikan pada cintamu<br />
yang menanti diujung waktumu..<br />
tak ada hati yang terluka lagi<br />
karena  api permainan yang telah padam </p>
	<p>entah apa yang tersisa,<br />
untai lagu mengiring dosa termanis?<br />
atau sejengkal sesal<br />
pada rasa yang tak kekal </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diksi.blogsome.com/2007/01/07/akhir-kisah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>masih saja&#8230;</title>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2007/01/04/masih-saja/</link>
		<comments>http://diksi.blogsome.com/2007/01/04/masih-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jan 2007 08:55:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diksi</dc:creator>
		
	<category>Gejolak</category>
		<guid>http://diksi.blogsome.com/2007/01/04/masih-saja/</guid>
		<description><![CDATA[	Masih saja ku tabur bunga dipadang yang tak kan kusemai masih saja hingar bingar merajai entah jalang entah lalai tapi aku hanya ingin damai 
	malam ini bunga itu untuk muhanya malam ini biarkan malam ini ku labuhkan hati hanya malam ini esok pagi kembali lah ke pangkuan cintamu yang malam ini telah kau belah, sebagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Masih saja ku tabur bunga dipadang yang tak kan kusemai <br />masih saja hingar bingar merajai <br />entah jalang entah lalai <br />tapi <br />aku hanya ingin damai </p>
	<p>malam ini bunga itu untuk mu<br />hanya malam ini <br />biarkan malam ini ku labuhkan hati <br />hanya malam ini <br />esok pagi kembali lah ke pangkuan cintamu <br />yang malam ini telah kau belah, sebagian kau suntingkan dihatiku </p>
	<p>malam ini bunga itu untukmu<br />karena kau adalah<br />satu dari seribu bunga yang pernah tumbuh dipadang kering <br />tak inginku kau berduri , tak ingin ku kau bertaji <br /> tak perlu pula ada yang berucap janji<br />biarkan rinai tawamu tak mengungkap tanya </p>
	<p>malam ini bunga itu untukmu <br />entah jalang itu milikmu atau milikku <br />tak pernah ku ingin menyatu <br />karena kutahu semua kan berlalu <br />bersama akhir musim waktu </p>
	<p>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diksi.blogsome.com/2007/01/04/masih-saja/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>hari ini tak ada puisi</title>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/12/28/hari-ini-tak-ada-puisi/</link>
		<comments>http://diksi.blogsome.com/2006/12/28/hari-ini-tak-ada-puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Dec 2006 09:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diksi</dc:creator>
		
	<category>Gejolak</category>
		<guid>http://diksi.blogsome.com/2006/12/28/hari-ini-tak-ada-puisi/</guid>
		<description><![CDATA[	Hari ini tak ada puisi,
karena semua kata telah tercuri,
dan yang tersisa hanyalah sepatah kata caci
itupun masih terlalu indah untuk hari ini 
	Hari ini tak ada puisi,
setelah badai yang tertuai
tapi benarkah badai?
bukankah tak lebih dari ambisi 
	Hari ini tak ada puisi,
karena semua telah terenggut mimpi
tualang demi tualang tak lagi berarti
kembali kata caci yang tersisa, hari ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Hari ini tak ada puisi,<br />
karena semua kata telah tercuri,<br />
dan yang tersisa hanyalah sepatah kata caci<br />
itupun masih terlalu indah untuk hari ini </p>
	<p>Hari ini tak ada puisi,<br />
setelah badai yang tertuai<br />
tapi benarkah badai?<br />
bukankah tak lebih dari ambisi </p>
	<p>Hari ini tak ada puisi,<br />
karena semua telah terenggut mimpi<br />
tualang demi tualang tak lagi berarti<br />
kembali kata caci yang tersisa, hari ini </p>
	<p>Hari ini tak ada puisi,<br />
setelah semua kejalanganku terkebiri<br />
oleh bayang wajah tak pasti<br />
terkurung lautan sunyi </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diksi.blogsome.com/2006/12/28/hari-ini-tak-ada-puisi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>ingin ku bukan engkau..</title>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/12/12/ingin-ku-bukan-engkau/</link>
		<comments>http://diksi.blogsome.com/2006/12/12/ingin-ku-bukan-engkau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Dec 2006 09:29:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diksi</dc:creator>
		
	<category>Gejolak</category>
		<guid>http://diksi.blogsome.com/2006/12/12/ingin-ku-bukan-engkau/</guid>
		<description><![CDATA[	&nbsp;ingin ku culik kembali kata cinta..yang telah terbuang di kubangan masa,ah, mungkin itu terlalu indah untuk kita  
	inginku rangkai kembali kebalau rindu,yang teronggok mati di kenang lalu,ah,mungkin itu terlalu syahdu untukmu
	ingin kulukis wajah itu di kanvas langit,yang kini selalu menatap sengit,ah, mungkin malah berujung pahit,   
	ternyata,pualam jiwa tak pernah adamati hati tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>&nbsp;ingin ku culik kembali kata cinta..<br />yang telah terbuang di kubangan masa,<br />ah, mungkin itu terlalu indah untuk kita  </p>
	<p>inginku rangkai kembali kebalau rindu,<br />yang teronggok mati di kenang lalu,<br />ah,mungkin itu terlalu syahdu untukmu</p>
	<p>ingin kulukis wajah itu di kanvas langit,<br />yang kini selalu menatap sengit,<br />ah, mungkin malah berujung pahit,   </p>
	<p>ternyata,<br />pualam jiwa tak pernah ada<br />mati hati tak kebas rasa   </p>
	<p>masih saja kukejar jatuh bintang,<br />yang kembali berujung bimbang<br />mencari arah tuk kembali pulang <br />haruskah engkau yang menanti diujung petang? &nbsp;</p>
	<p>&nbsp;</p>
	<p>&nbsp;   </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diksi.blogsome.com/2006/12/12/ingin-ku-bukan-engkau/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>senja</title>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/11/30/senja-jogja/</link>
		<comments>http://diksi.blogsome.com/2006/11/30/senja-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Nov 2006 08:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diksi</dc:creator>
		
	<category>Saksi Mata</category>
		<guid>http://diksi.blogsome.com/2006/11/30/senja-jogja/</guid>
		<description><![CDATA[	Senja di kotaku &nbsp;
	Aku ingin merangkai seribu puisi, yang kutulis diatas dedaun beringin tua yang tak jemu bertengger di pusat alun-alun,kemudian memanggil burung-burung yang selalu berkunjung ke lengan kokoh sang beringin disilam waktu,tapi kini kotaku selalu sepi,dari burung-burung yang menemani kala senja, menyertai cinta bau kencur anak mudadan dedaun beringin tuapun mulai berguguran tersengat arus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p class="MsoNormal"><strong>Senja di kotaku &nbsp;</strong></p>
	<p class="MsoNormal">Aku ingin merangkai seribu puisi, yang kutulis diatas dedaun beringin tua yang tak jemu bertengger di pusat alun-alun,<br />kemudian memanggil burung-burung yang selalu berkunjung ke lengan kokoh sang beringin disilam waktu,<br />tapi kini kotaku selalu sepi,<br />dari burung-burung yang menemani kala senja, menyertai cinta bau kencur anak muda<br />dan dedaun beringin tuapun mulai berguguran tersengat arus waktu,<br />lalu kemana aku harus menuliskan puisi? </p>
	<p class="MsoNormal">Kini senja perlahan membunuh kota indahku, seiring muda &ndash; mudi yang menjejal di sudut-sudut bunderan.. mereka yang mengatasnamakan cinta.<br />Pelukis yang biasa melukis langit tak tahu lagi kemana menggores kanvas,<br />karena langit telah muram tertelan tinggi gedung &ndash; gedung angkuh ,<br />pelangi yang biasa menemani langit pun kehilangan warna<br />lalu kemana lagi lukisan harus tergores? </p>
	<p class="MsoNormal">Kidung senja yang dulu meriungi sudut &ndash; sudut benteng kehidupan, kini sembunyi dibalik hingar jalan. Mengiringi tarian gadis setengah jalang disela-sela asap rokok..<br />Oh, masih adakah gadisku yang dulu bersanggul mawar dan berkebaya cinta?<br />Yang selalu menyembunyikan teduh dibalik tatapnya&hellip;<br />Oh, masih adakah reriungan malam yang memanggil nirwana di pendapa jiwa ?<br />Yang selalu melauti jiwa dengan seroja </p>
	<p class="MsoNormal">Dan getar bumi yang pernah singgah dipekarangan kota ku,<br />Tak juga menyisakan tanya, mengapa pagi itu begitu sunyi?<br />Lirih perih tak juga membawa kepada bajik.<br />Oh, dimanakah para pujangga yang dulu berguru kepada bijak.<br />Ataukah kotaku telah bebal tak sanggup lagi menanggung ajal </p>
	<p class="MsoNormal">Mengapa justru lautan dusta yang menggenangi megah &nbsp;alun-alun itu<br />Syair cinta yang dulu membahana di ruang jiwa, kini menyatu bersama dengus nafas di balik bilik<br />Pagiku enggan menggantikan malam, karena kotaku yang semakin menyempit,<br />terpaksa harus megundang matahari mendekati nadi</p>
	<p class="MsoNormal">Para pekerja tua tak tahu lagi kemana harus memungut uangnya, karena tak lagi memiliki lorong<br />Dan penyairpun tak tau lagi kemana harus mengalamatkan syair</p>
	<p class="MsoNormal"></p>
	<p>Dari Banda untuk Jogja. </p>
	<p class="MsoNormal">30 November 2006</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diksi.blogsome.com/2006/11/30/senja-jogja/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>televisi</title>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/11/29/televisi/</link>
		<comments>http://diksi.blogsome.com/2006/11/29/televisi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2006 06:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diksi</dc:creator>
		
	<category>Saksi Mata</category>
		<guid>http://diksi.blogsome.com/2006/11/29/televisi/</guid>
		<description><![CDATA[	Televisi hari ini
	Aku mematung didepan televisi, hari ini sepertinya televisiku menderita sekali.. Pagi tadi, luapan lumpur keluar dari kedua kupingnya yang tak lagi seimbang kiri dan kanan. Tak lama kemudian hidungnya yang pesek tersedak gumpalan asap tebal yang terhembus entah dari mana. Tak mungkin dari asap rokok murahan yang aku hisap.. 
	Dan tiba-tiba&hellip;Tabung televisiku meledak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Televisi hari ini</p>
	<p>Aku mematung didepan televisi, hari ini sepertinya televisiku menderita sekali.. <br />Pagi tadi, luapan lumpur keluar dari kedua kupingnya yang tak lagi seimbang kiri dan kanan. <br />Tak lama kemudian hidungnya yang pesek tersedak gumpalan asap tebal yang terhembus entah dari mana. Tak mungkin dari asap rokok murahan yang aku hisap.. </p>
	<p>Dan tiba-tiba&hellip;<br />Tabung televisiku meledak, mungkin tak kuat menahan gendang telinganya yang penuh lumpur panas&hellip; <br />Lalu segerombolan orang-orangan sawah berlarian dari dalam tabung televisiku&hellip;<br />Mereka berduyun-duyun membawa gembolan kain, menarik gerobak, bahkan ada yang menggotong rumah-rumah mereka..<br />Aku mencibir..<br />Huh, kemana mereka akan pergi?<br />&ldquo;Tak ada lagi tempat aman bung..!,&rdquo; aku berteriak ketus.. </p>
	<p>Belum lama televisiku berhenti dari batuk-batuk karena asap, <br />Angin kencang datang menggoyang televisiku yang sudah compang-camping<br />Untungnya kakinya yang pincang sebelah masih mampu menahan goyangan puting beliung itu.. </p>
	<p>Akhirnya televisiku bisa sedikit tersenyum, <br />Ketika perempuan-perempuan cantik setengah telanjang menghampiri tabungnya yang sudah bolong separuh.<br />Mereka asyik bercerita tentang laki-laki yang berebut perempuan, perempuan-perempuan yang rebutan laki-laki dan suami-istri yang rebutan anak&hellip;<br />Hingga televisiku pusing mendengarnya dan mengusir mereka&hellip; </p>
	<p>Setelah perempuan-perempuan itu pergi, kini giliran gelombang air bah bertamu, <br />Televisiku berenang-renang di pusaran air yang berwarna coklat, <br />Kupingnya yang sudah tak lagi seimbang kiri dan kanan kini, hilang sebelah, hanyut bersama air bah yang datang tak diundang </p>
	<p>Orang-orangan sawah yang tadi berlarian dari tabung televisiku, kini berhambur kembali masuk ke lubang yang menganga di tabung itu.. <br />Mereka takut pergi ke kota, karena tak punya KTP dan khawatir kena gusur..<br />Sekarang mereka malah sembunyi dibalik tabung televisiku yang sudah bolong separo.. </p>
	<p>Sekonyong-konyong terdengar dari sebelah rumah, anak tetanggaku yang masih TK bersajak: <br />&ldquo;Tanah air ku, kini bersatu menjadi lumpur&hellip;..&rdquo;</p>
	<p>28 November 2006</p>
	<p>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diksi.blogsome.com/2006/11/29/televisi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>celoteh</title>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/11/29/celoteh/</link>
		<comments>http://diksi.blogsome.com/2006/11/29/celoteh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2006 06:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diksi</dc:creator>
		
	<category>Saksi Mata</category>
		<guid>http://diksi.blogsome.com/2006/11/29/celoteh/</guid>
		<description><![CDATA[	Celoteh pagi
	Pagi ini ibu menanak pasir, seperti hari-hari biasanya, tapi pasir pagi ini berasal  dari halaman tetangga sebelah. Pasir kami sendiri sudah habis, hanyut saat hujan awal bulan ini.
Warti, adikku yang terkecil sedang menumbuk batu bata, sebentar lagi dipakainya untuk gosok gigi.
Aku sendiri hanya mengumpulkan sedikit gedhek bambu,  memotongnya bulat-bulat  untuk kujadikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Celoteh pagi</p>
	<p>Pagi ini ibu menanak pasir, seperti hari-hari biasanya, tapi pasir pagi ini berasal  dari halaman tetangga sebelah. Pasir kami sendiri sudah habis, hanyut saat hujan awal bulan ini.<br />
Warti, adikku yang terkecil sedang menumbuk batu bata, sebentar lagi dipakainya untuk gosok gigi.<br />
Aku sendiri hanya mengumpulkan sedikit gedhek bambu,  memotongnya bulat-bulat  untuk kujadikan piring.<br />
Sambil menunggu ibu menanak pasir.</p>
	<p>Sementara ayah mengintip dari balik makam, disebelah tenda kami yang terbuka sebagian.<br />
Belum lama ayah menempati makam itu, kami sebenarnya keberatan ayah selalu terjaga mengawasi kami dari makam itu.<br />
Tapi tak ada yang berani menolak wasiat terakhir seseorang menjelang ajal, apalagi itu ayah..<br />
Dan tak jauh dari ayah, Ningsih pun ikut-ikutan mengawasi dari balik gundukan tanah..<br />
Ah, Ningsih, begitu cepat ia meninggalkan aku, laki-laki pujaan hatinya.<br />
Ningsih ikut menari bersama tarian bumi pagi itu, dan menyatu bersama batu-bata yang sekarang untuk gosok gigi adikku.. </p>
	<p>Hari ini ada berita besar, orang kota datang bagi-bagi uang..!!!<br />
Tapi untuk apa uang?<br />
Kami sudah terbiasa makan pasir, minum air genangan hujan, gosok gigi dengan bubuk batu bata, mandi dengan batu hitam runtuhan gempa..</p>
	<p>Katanya uang itu untuk membangun rumah…!!!<br />
Ah, untuk apa rumah?<br />
tenda kami lebih luas, lihat saja halamannya seluas ini, seluas satu kampung di kota</p>
	<p>Adikku, selesai sarapan, kemudian mematahkan beberapa runtuhan besi bangunan untuk dijadikan pensil disekolah..<br />
Sebelum berangkat, dia menalikan genteng dikakinya untuk dijadikan sepatu…<br />
Kemudian berangkat boncengan dengan temannya mengendarai kusen jendela, yang teronggok di dekat kubangan sampah… </p>
	<p>Hari ini awan gelap berkunjung di atas tenda kami,<br />
Tak lama lagi pasti teman-temannya datang membawa hujan, </p>
	<p>Aku ingin kembali tidur, sambil memeluk balok jati bekas tiang penyangga joglo<br />
Siapa tahu Ningsih masih menunggu dalam tidurku…</p>
	<p>28 November 2006</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diksi.blogsome.com/2006/11/29/celoteh/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>puisi yang terluka</title>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/11/26/puisi-yang-terluka/</link>
		<comments>http://diksi.blogsome.com/2006/11/26/puisi-yang-terluka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Nov 2006 06:26:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diksi</dc:creator>
		
	<category>Gejolak</category>
		<guid>http://diksi.blogsome.com/2006/11/26/puisi-yang-terluka/</guid>
		<description><![CDATA[	&nbsp; aku hanyalah puisi yang terluka, namun puisi terlanjur mencinta syair kemana puisi akan bersyair, saat kata tak lagi memakna gejolak yang menggegas kabur dalam pandang ragu, 
	&nbsp;ingin kembali kugali, makam sebuah hati yang menyatu bersama deru masa lalu
	namun langkah harus gontai mengekang asa, sementara rumput kering tak akan pernah berubah menjadi mawar, pun untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p class="MsoNormal">&nbsp;<br /> aku hanyalah puisi yang terluka,<br /> namun puisi terlanjur mencinta syair<br /> kemana puisi akan bersyair, saat kata tak lagi memakna<br /> gejolak yang menggegas kabur dalam pandang ragu, </p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;ingin kembali kugali, makam sebuah hati<br /> yang menyatu bersama deru masa lalu</p>
	<p class="MsoNormal">namun langkah harus gontai mengekang asa,<br /> sementara rumput kering tak akan pernah berubah menjadi mawar,<br /> pun untuk apa mawar? <br /> jika yang tumbuh hanyalah taji duri,<br /> yang selalu siap melukai sayap sang merpati, yang terbang tak kenal diri<br /> lalu jatuh diatas makam sebuah hati&hellip;<br /> disitulah waktu telah menguburkan rasa,<br /> bersama hati yang meruangi,<br /> yang kembali ingin meronta pergi, </p>
	<p class="MsoNormal">namun untuk apa melangkah? Jika harus kembali lunglai,<br /> tersungkur<br /> mati karena hati,  </p>
	<p class="MsoNormal">mengapa tak tertinggal saja hati,<br /> saat memulai hari..<br /> dan tak kan lagi hilang kendali,<br /> dan jarak tak kan lagi menghantui, </p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;tapi hati tetaplah hati,<br /> menyatu dengan misteri<br /> tentang kemana akan bertepi,<br /> tentang mengapa justru berseri,<br /> saat seharusnya mencaci </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diksi.blogsome.com/2006/11/26/puisi-yang-terluka/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>mati..?</title>
		<link>http://diksi.blogsome.com/2006/11/16/mati/</link>
		<comments>http://diksi.blogsome.com/2006/11/16/mati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Nov 2006 11:40:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diksi</dc:creator>
		
	<category>KOntemPlasI</category>
		<guid>http://diksi.blogsome.com/2006/11/16/mati/</guid>
		<description><![CDATA[	dancongkal batu karang itu pun luruh..bersama kilas malam dan rinai tawa&nbsp;
	yang pernah meniti hari bersulam janjikini waktu telah menjagal jiwa menikam tumbang kesombongan
	ternyata,mati hati hanya ilusidan kebahagiaan yang tak terucap,masihlah kutukan di fajar pagi
	kembali,lantunan itu berujung elegi,tentang sepotong hati disudut sepi, &nbsp;
	&nbsp;
	&nbsp;
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>dan<br />congkal batu karang itu pun luruh..<br />bersama kilas malam dan rinai tawa&nbsp;</p>
	<p>yang pernah meniti hari bersulam janji<br />kini waktu telah menjagal jiwa <br />menikam tumbang kesombongan</p>
	<p>ternyata,<br />mati hati hanya ilusi<br />dan kebahagiaan yang tak terucap,<br />masihlah kutukan di fajar pagi</p>
	<p>kembali,<br />lantunan itu berujung elegi,<br />tentang sepotong hati disudut sepi, <br />&nbsp;</p>
	<p>&nbsp;</p>
	<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diksi.blogsome.com/2006/11/16/mati/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
