jejak kata

November 16, 2006

mati..?

Filed under: KOntemPlasI - diksi @ 11:40 am

dan
congkal batu karang itu pun luruh..
bersama kilas malam dan rinai tawa 

yang pernah meniti hari bersulam janji
kini waktu telah menjagal jiwa
menikam tumbang kesombongan

ternyata,
mati hati hanya ilusi
dan kebahagiaan yang tak terucap,
masihlah kutukan di fajar pagi

kembali,
lantunan itu berujung elegi,
tentang sepotong hati disudut sepi,
 

 

 

May 14, 2006

wisdom

Filed under: KOntemPlasI - diksi @ 10:15 am

Apabila kehidupan sehari-hari terasa miskin, jangan kau keluhkan. tetapi sesalilah dirimu karena tidak cukup tabah untuk menggali kekayaannya

April 30, 2006

Pulang kali ini…

Filed under: KOntemPlasI - diksi @ 6:14 am

Pulang kali ini… Pulang selalu menjadi sesuatu yang indah, tak peduli berapapun ‘biaya’ yang harus dikeluarkan. biaya tak selalu berarti uang, bisa berupa segala aktivitas yang dikorbankan untuk pulang.. Pulang adalah kembali di mana titik sebuah perjalanan dimulai…bisa jadi kembali ke peradaban semula.. ah, Peradaban, sesuatu yang sangat relatip. -peradaban di Banda Aceh, jauh berbeda dengan, Jakarta maupun Jogja peradaban di Aceh berarti mondar-mandirnya mobil2 mewah milik NGO, kehidupan memprihatinkan di barak - barak dan tenda - tenda pengungsi, peradaban di Jakarta adalah kesibukan hampir 24 jam para pekerja kantor, buruh dan mereka yang larut di kehidupan malam peradaban di Jogja tak lebih dari persinggahan mereka yang mencari ilmu untuk masa depan versi masing2.. Sekian kali aku pulang dari perjalanan, dan kini pulang lagi… kembali ke rengkuh senyum wanita yang mengukir jiwa raga, sebuah ketulusan suci tak ada banding…

April 10, 2006

dialektika

Filed under: KOntemPlasI - diksi @ 6:05 pm

 KOntemPlasI

Aku termenung, mendengarkan dialektika hati, sekian lama sulit benar kudengar suara hati, benar kata orang mendengar jauh lebih sulit dari berbicara bahkan untuk mendengar suara hati sendiri pun begitu sulit…apalagi melakukan apa yang mampu kita dengar,

Ternyata menyukai apa yang kita lakukan jauh lebih sulit daripada melakukan apa yang kita sukai…

Dialektika hati dan akal seakan tak pernah ada habisnya, sungguh mulia Sang Maha Pencipta, yang menciptakan hati untuk menemani akal, sebuah prosesi abadi daya nalar manusia, Pernahkah kita bertanya apa jadinya jika manusia hanya di karuniai akal tanpa hati, ataupun sebaliknya..

Meskipun secara ruhaniah, mampukah kita membedakan suara hati,-perasaan dan suara akal,-logika..
Pun kenapa pula kita sering memilah antara hati dan akal, dalam acap pengambilan keputusan, kenapa tidak kita satukan hati dan akal, menjadi jiwa..
Karena acap kali kita tertipu, ketika memutuskan sesuatu seakan berdasarkan suara hati, ternyata itu adalah manipulasi akal,-logika..
Secara fisik, jelas antara hati, yang notabene adalah jantung, dan akal jelas adalah otak, secara mudah dapat kita pilahkan letak dan anatominya, namun secara rohaniah, yang terjadi di benak, sebuah paradoks antara hati,- perasaan dan akal,-logika, adalah absurd.

 
"Ukuran tubuhmu tidak penting; ukuran otakmu cukup penting; ukuran hatimulah yang terpenting"
-BC Gorbes

 
“tiadakah mereka melakukan perjalanan dimuka bumi, sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka merasa, dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Sungguh, bukanlah matanya yang buta, tetapi hati yang ada dalam (rongga dada)”.
-QS Al Hajj 22:46

 “…Ia memberi hikmah kepada siapa ia berkenan. Dan barang siapa yang diberi-Nya hikmah, kepadanya telah diberikan kebaikan melimpah. Namun, tiada yang mengambil peringatan, kecuali orang yang mempunyai pikiran..”

-QS Al Baqarah 2:269

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King