Ruang jiwa
Kau bawa aku ke sudut ruang jiwa, bertanya tanya tentang senyawa,
aku terpagut dalam rasa, yang telah kau hapus dalam kata.
Ku hitung angka almanak, tetap saja tak pernah melonjak,
menunggu saat ku luapkan sajak.Ah, waktu malah semakin rangkak
Ditepian asa yang kususuri, jelaga yang kudapati
Disetiap jejak yang ku lacak, ada gelak yang terserak, kau tak juga retak,
Telah kau repihkan serpih langkah langkah letih, yang selalu terucap dalam lirih
“jangan pernah berucap cinta”, karena cinta hanya akan membuta
tak pernah kutanya mengapa, karena yang kau sisakan adalah ruang jiwa
yang cukup lama terlupa, terpupus langkah kembara, meski rasa selalu butuh kata
Kucoba rangkai mahkota, yang pernah ku buang dalam kenang masa,
saat gejoka rasa adalah raja, tak juga pernah kau tanya mengapa,
karena kau sendiri adalah tanya
Kau bawa pelita saat ku mencari kejora, dan aku pun berhitung akan masa
Masa yang telah menista jiwa muda, menyamar dalam riuh tawa, yang kini tertinggal dalam keranda,
Dalam setiap kata yang coba kita susun, masih saja saling beruntun.
Ah, itu biasa untuk sebuah lantun,
Dalam setiap lembar kelana yang kuraba, kusisihkan setiap makna,
tak juga pernah kau tanya siapa, karena kau sendiri adalah makna
Dalam setiap tanyaku akan rasa, kau jawab dengan irama
Dalam setiap resahku akan asa, kau kebaskan dengan doa,
Disetiap penjuru waktu yang kini berpadu,
kuleburkan dalam tuju, membuang segala rancu
Dan kau pun berdiri diujung waktu…