jejak kata

January 7, 2007

akhir kisah

Filed under: Gejolak - diksi @ 4:35 pm

dan,
kisah kita pun berakhir diujung pelangi …
rasa yang kau belah telah kau suntingkan di hariku
esok hari kembalikan pada cintamu
yang menanti diujung waktumu..
tak ada hati yang terluka lagi
karena api permainan yang telah padam

entah apa yang tersisa,
untai lagu mengiring dosa termanis?
atau sejengkal sesal
pada rasa yang tak kekal

January 4, 2007

masih saja…

Filed under: Gejolak - diksi @ 8:55 am

Masih saja ku tabur bunga dipadang yang tak kan kusemai
masih saja hingar bingar merajai
entah jalang entah lalai
tapi
aku hanya ingin damai

malam ini bunga itu untuk mu
hanya malam ini
biarkan malam ini ku labuhkan hati
hanya malam ini
esok pagi kembali lah ke pangkuan cintamu
yang malam ini telah kau belah, sebagian kau suntingkan dihatiku

malam ini bunga itu untukmu
karena kau adalah
satu dari seribu bunga yang pernah tumbuh dipadang kering
tak inginku kau berduri , tak ingin ku kau bertaji
tak perlu pula ada yang berucap janji
biarkan rinai tawamu tak mengungkap tanya

malam ini bunga itu untukmu
entah jalang itu milikmu atau milikku
tak pernah ku ingin menyatu
karena kutahu semua kan berlalu
bersama akhir musim waktu

December 28, 2006

hari ini tak ada puisi

Filed under: Gejolak - diksi @ 9:30 am

Hari ini tak ada puisi,
karena semua kata telah tercuri,
dan yang tersisa hanyalah sepatah kata caci
itupun masih terlalu indah untuk hari ini

Hari ini tak ada puisi,
setelah badai yang tertuai
tapi benarkah badai?
bukankah tak lebih dari ambisi

Hari ini tak ada puisi,
karena semua telah terenggut mimpi
tualang demi tualang tak lagi berarti
kembali kata caci yang tersisa, hari ini

Hari ini tak ada puisi,
setelah semua kejalanganku terkebiri
oleh bayang wajah tak pasti
terkurung lautan sunyi

December 12, 2006

ingin ku bukan engkau..

Filed under: Gejolak - diksi @ 9:29 am

 ingin ku culik kembali kata cinta..
yang telah terbuang di kubangan masa,
ah, mungkin itu terlalu indah untuk kita

inginku rangkai kembali kebalau rindu,
yang teronggok mati di kenang lalu,
ah,mungkin itu terlalu syahdu untukmu

ingin kulukis wajah itu di kanvas langit,
yang kini selalu menatap sengit,
ah, mungkin malah berujung pahit,

ternyata,
pualam jiwa tak pernah ada
mati hati tak kebas rasa

masih saja kukejar jatuh bintang,
yang kembali berujung bimbang
mencari arah tuk kembali pulang
haruskah engkau yang menanti diujung petang?  

 

 

November 26, 2006

puisi yang terluka

Filed under: Gejolak - diksi @ 6:26 am

 
aku hanyalah puisi yang terluka,
namun puisi terlanjur mencinta syair
kemana puisi akan bersyair, saat kata tak lagi memakna
gejolak yang menggegas kabur dalam pandang ragu,

 ingin kembali kugali, makam sebuah hati
yang menyatu bersama deru masa lalu

namun langkah harus gontai mengekang asa,
sementara rumput kering tak akan pernah berubah menjadi mawar,
pun untuk apa mawar?
jika yang tumbuh hanyalah taji duri,
yang selalu siap melukai sayap sang merpati, yang terbang tak kenal diri
lalu jatuh diatas makam sebuah hati…
disitulah waktu telah menguburkan rasa,
bersama hati yang meruangi,
yang kembali ingin meronta pergi,

namun untuk apa melangkah? Jika harus kembali lunglai,
tersungkur
mati karena hati,

mengapa tak tertinggal saja hati,
saat memulai hari..
dan tak kan lagi hilang kendali,
dan jarak tak kan lagi menghantui,

 tapi hati tetaplah hati,
menyatu dengan misteri
tentang kemana akan bertepi,
tentang mengapa justru berseri,
saat seharusnya mencaci

May 14, 2006

wintersun

Filed under: Gejolak - diksi @ 10:29 am

Waiting for the winter sun*

 

for too long now
there were secrets in my mind
for too long now
there were things i should have said
in the darkness
i was stumbling for the door
to find a reason
to find the time,the place,the hour

waiting for the winter sun
and the cold light of day
the misty chost of childhood fears
the preessure is building
and i can’t stay away

i throw myself into the sea
release the wave
let it wash over me
to face the fear
i once believed
the tears for the dragon
for you and for me

where i was
i had wings that couldn’t fly
where i was
i had tears i couldn’t cry
my emotions
frozen in an icy lake
i couldn’t feel them
until the ice became to break
i have no power over this
you know i’m afraid
the walls i built are crumblig
the water is moving
i’m slipping away

i throw myself into the sea
release the wave
let it wash over me
to face the fear
i once believed
the taers for the dragon
for you and for me
slowly i awake
slowly i rise
the walls i built are crumblig
the water is moving
i’m slipping away
i throw myself into the sea
release the wave
let it wash over me
to face the fear
i once believed
the tears for the dragon
for you and for me

from the song "tears of the dragon" by bruce dickinson

April 2, 2006

Ruang Jiwa

Filed under: Gejolak - diksi @ 5:24 pm

Ruang jiwa

 Kau bawa aku ke sudut ruang jiwa, bertanya tanya tentang senyawa,
aku terpagut dalam rasa, yang telah kau hapus dalam kata.
Ku hitung angka almanak, tetap saja tak pernah melonjak,
menunggu saat ku luapkan sajak.Ah, waktu malah semakin rangkak

Ditepian asa yang kususuri, jelaga yang kudapati
Disetiap jejak yang ku lacak, ada gelak yang terserak, kau tak juga retak,
Telah kau repihkan serpih langkah langkah letih, yang selalu terucap dalam lirih
“jangan pernah berucap cinta”, karena cinta hanya akan membuta
tak pernah kutanya mengapa, karena yang kau sisakan adalah ruang jiwa
yang cukup lama terlupa, terpupus langkah kembara, meski rasa selalu butuh kata

Kucoba rangkai mahkota, yang pernah ku buang dalam kenang masa,
saat gejoka rasa adalah raja, tak juga pernah kau tanya mengapa,
karena kau sendiri adalah tanya


Kau bawa pelita saat ku mencari kejora, dan aku pun berhitung akan masa
Masa yang telah menista jiwa muda, menyamar dalam riuh tawa, yang kini tertinggal dalam keranda,

Dalam setiap kata yang coba kita susun, masih saja saling beruntun.
Ah, itu biasa untuk sebuah lantun, 

Dalam setiap lembar kelana yang kuraba, kusisihkan setiap makna,
tak juga pernah kau tanya siapa, karena kau sendiri adalah makna
Dalam setiap tanyaku akan rasa, kau jawab dengan irama
Dalam setiap resahku akan asa, kau kebaskan dengan doa,

Disetiap penjuru waktu yang kini berpadu,
kuleburkan dalam tuju, membuang segala rancu


Dan kau pun berdiri diujung waktu…

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King