jejak kata

May 15, 2008

intermezouli

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 9:27 am

sudah lama sekali tak ku jamah blog ini,
entah karena jemu atau tak ada lagi yang mampu keluar dari kelenjar otakku,

kinipun, dengan tertatih-tatih jari ini mengetik papan keyboard, berharap ada kata yang tiba-tiba terlintas di kepala dan tertuang di layar.

entahlah, menulis dengan hati atau kepala pun kini serasa rumit, serumit integral dan differensial di bangku kuliah dulu, semasa kerumitan dan kesusahan adalah kawan baik, dalam arti yang sesungguhnya

 

November 30, 2006

senja

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 8:40 am

Senja di kotaku  

Aku ingin merangkai seribu puisi, yang kutulis diatas dedaun beringin tua yang tak jemu bertengger di pusat alun-alun,
kemudian memanggil burung-burung yang selalu berkunjung ke lengan kokoh sang beringin disilam waktu,
tapi kini kotaku selalu sepi,
dari burung-burung yang menemani kala senja, menyertai cinta bau kencur anak muda
dan dedaun beringin tuapun mulai berguguran tersengat arus waktu,
lalu kemana aku harus menuliskan puisi?

Kini senja perlahan membunuh kota indahku, seiring muda – mudi yang menjejal di sudut-sudut bunderan.. mereka yang mengatasnamakan cinta.
Pelukis yang biasa melukis langit tak tahu lagi kemana menggores kanvas,
karena langit telah muram tertelan tinggi gedung – gedung angkuh ,
pelangi yang biasa menemani langit pun kehilangan warna
lalu kemana lagi lukisan harus tergores?

Kidung senja yang dulu meriungi sudut – sudut benteng kehidupan, kini sembunyi dibalik hingar jalan. Mengiringi tarian gadis setengah jalang disela-sela asap rokok..
Oh, masih adakah gadisku yang dulu bersanggul mawar dan berkebaya cinta?
Yang selalu menyembunyikan teduh dibalik tatapnya…
Oh, masih adakah reriungan malam yang memanggil nirwana di pendapa jiwa ?
Yang selalu melauti jiwa dengan seroja

Dan getar bumi yang pernah singgah dipekarangan kota ku,
Tak juga menyisakan tanya, mengapa pagi itu begitu sunyi?
Lirih perih tak juga membawa kepada bajik.
Oh, dimanakah para pujangga yang dulu berguru kepada bijak.
Ataukah kotaku telah bebal tak sanggup lagi menanggung ajal

Mengapa justru lautan dusta yang menggenangi megah  alun-alun itu
Syair cinta yang dulu membahana di ruang jiwa, kini menyatu bersama dengus nafas di balik bilik
Pagiku enggan menggantikan malam, karena kotaku yang semakin menyempit,
terpaksa harus megundang matahari mendekati nadi

Para pekerja tua tak tahu lagi kemana harus memungut uangnya, karena tak lagi memiliki lorong
Dan penyairpun tak tau lagi kemana harus mengalamatkan syair

Dari Banda untuk Jogja.

30 November 2006

November 29, 2006

televisi

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 6:33 am

Televisi hari ini

Aku mematung didepan televisi, hari ini sepertinya televisiku menderita sekali..
Pagi tadi, luapan lumpur keluar dari kedua kupingnya yang tak lagi seimbang kiri dan kanan.
Tak lama kemudian hidungnya yang pesek tersedak gumpalan asap tebal yang terhembus entah dari mana. Tak mungkin dari asap rokok murahan yang aku hisap..

Dan tiba-tiba…
Tabung televisiku meledak, mungkin tak kuat menahan gendang telinganya yang penuh lumpur panas…
Lalu segerombolan orang-orangan sawah berlarian dari dalam tabung televisiku…
Mereka berduyun-duyun membawa gembolan kain, menarik gerobak, bahkan ada yang menggotong rumah-rumah mereka..
Aku mencibir..
Huh, kemana mereka akan pergi?
“Tak ada lagi tempat aman bung..!,” aku berteriak ketus..

Belum lama televisiku berhenti dari batuk-batuk karena asap,
Angin kencang datang menggoyang televisiku yang sudah compang-camping
Untungnya kakinya yang pincang sebelah masih mampu menahan goyangan puting beliung itu..

Akhirnya televisiku bisa sedikit tersenyum,
Ketika perempuan-perempuan cantik setengah telanjang menghampiri tabungnya yang sudah bolong separuh.
Mereka asyik bercerita tentang laki-laki yang berebut perempuan, perempuan-perempuan yang rebutan laki-laki dan suami-istri yang rebutan anak…
Hingga televisiku pusing mendengarnya dan mengusir mereka…

Setelah perempuan-perempuan itu pergi, kini giliran gelombang air bah bertamu,
Televisiku berenang-renang di pusaran air yang berwarna coklat,
Kupingnya yang sudah tak lagi seimbang kiri dan kanan kini, hilang sebelah, hanyut bersama air bah yang datang tak diundang

Orang-orangan sawah yang tadi berlarian dari tabung televisiku, kini berhambur kembali masuk ke lubang yang menganga di tabung itu..
Mereka takut pergi ke kota, karena tak punya KTP dan khawatir kena gusur..
Sekarang mereka malah sembunyi dibalik tabung televisiku yang sudah bolong separo..

Sekonyong-konyong terdengar dari sebelah rumah, anak tetanggaku yang masih TK bersajak:
“Tanah air ku, kini bersatu menjadi lumpur…..”

28 November 2006

celoteh

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 6:31 am

Celoteh pagi

Pagi ini ibu menanak pasir, seperti hari-hari biasanya, tapi pasir pagi ini berasal dari halaman tetangga sebelah. Pasir kami sendiri sudah habis, hanyut saat hujan awal bulan ini.
Warti, adikku yang terkecil sedang menumbuk batu bata, sebentar lagi dipakainya untuk gosok gigi.
Aku sendiri hanya mengumpulkan sedikit gedhek bambu, memotongnya bulat-bulat untuk kujadikan piring.
Sambil menunggu ibu menanak pasir.

Sementara ayah mengintip dari balik makam, disebelah tenda kami yang terbuka sebagian.
Belum lama ayah menempati makam itu, kami sebenarnya keberatan ayah selalu terjaga mengawasi kami dari makam itu.
Tapi tak ada yang berani menolak wasiat terakhir seseorang menjelang ajal, apalagi itu ayah..
Dan tak jauh dari ayah, Ningsih pun ikut-ikutan mengawasi dari balik gundukan tanah..
Ah, Ningsih, begitu cepat ia meninggalkan aku, laki-laki pujaan hatinya.
Ningsih ikut menari bersama tarian bumi pagi itu, dan menyatu bersama batu-bata yang sekarang untuk gosok gigi adikku..

Hari ini ada berita besar, orang kota datang bagi-bagi uang..!!!
Tapi untuk apa uang?
Kami sudah terbiasa makan pasir, minum air genangan hujan, gosok gigi dengan bubuk batu bata, mandi dengan batu hitam runtuhan gempa..

Katanya uang itu untuk membangun rumah…!!!
Ah, untuk apa rumah?
tenda kami lebih luas, lihat saja halamannya seluas ini, seluas satu kampung di kota

Adikku, selesai sarapan, kemudian mematahkan beberapa runtuhan besi bangunan untuk dijadikan pensil disekolah..
Sebelum berangkat, dia menalikan genteng dikakinya untuk dijadikan sepatu…
Kemudian berangkat boncengan dengan temannya mengendarai kusen jendela, yang teronggok di dekat kubangan sampah…

Hari ini awan gelap berkunjung di atas tenda kami,
Tak lama lagi pasti teman-temannya datang membawa hujan,

Aku ingin kembali tidur, sambil memeluk balok jati bekas tiang penyangga joglo
Siapa tahu Ningsih masih menunggu dalam tidurku…

28 November 2006

April 16, 2006

pengungsi abadi

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 4:40 pm

Pengungsi abadi

Entah apa aku harus menamakan kalian, para pemukim..
Kuberi nama kota tapi kalian tak bercahaya
Kusebut desa tapi kalian tak bersawah
Kupanggil kau pengungsi, namun derita kalian nyaris abadi
Tenda-tenda yang dulu sahabat, kinipun telah khianat, memagut kala gelap
siang malam menusuk tulang, pagi mengikis kulit, siang memanggang kepala..

ingin ku menjadi hujan, yang membaluri tenda kalian
Namun raga tak kuasa bersenyawa
Ingin ku menjadi lilin, yang menemani alunan mimpi
Namun batin tak kuasa memimpin

Andaikan kata mampu membasuh lara
Andaikan syair mampu menggantikan bulir
Bulir padi, bulir air, dan bulir angin semilir

Ratusan kali mentari menghindari rembulan,
Air mata masih air mata, tak pernah berganti rupa mata air
Mata air kalian adalah debu pesisir, tempat raga mereka mengalir
Mereka yang hidup di lain alam, mewarta khabar tentang kelam
Kelam donya  tak selalu kelam nirwana,

Ditepian gemulai pantai, adalah mural kehidupan,
Padas batu menjulang gunung,
Saksi mati mata hati
kala raga berjuang memandu nyawa
yang tak kuasa pun dipanggilNya,
entah harus kuberi nama apa, kalian para pemukim..
dibelikat bukit kau berteman penyakit

 
banda aceh, 16 april 2006

April 10, 2006

kerajaan batu

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 6:06 pm

Surat wasiat

Dengan ini  Kuwariskan padamu kerajaan batu, tempat berkomplotnya para penipu.Tapi mereka tak pernah mampu menipu Aku, karena Akulah raja tipu.
Dengan ini Kuwariskan padamu sejuta nikmat, bersama mereka, para tukang lumat. Tapi mereka tak pernah mampu melumat Aku, karena Akulah adalah raja lumat..

Di kerajaanku tak seorang pun berani berlagu, karena rakyatku selalu diam seribu.
Di kerajaanku tak seorang pun berani bertalu, karena nyawa rakyatku adalah kendaliku.

Mereka yang jelata, biarlah melata menahan celaka, meratapi petaka..
Mereka yang mulia, biarlah bertahta tiara, bermandikan cendana
Karena kerajaanku adalah kerajaan batu, tak mempan peluru apalagi sembilu,

Biarlah yang jelata diterjang peluru, mereka yang piatu, bukan ratu..

Dengan ini Kuwariskan padamu ayat-ayat dustaku, bersama mereka para pendusta. Tapi mereka tak pernah mampu mendusta Aku, karena Akulah raja dusta.

Dengan ini Kuwariskan sejuta malu, yang tak lagi ada di uratku, karena malu hanya milik mereka yang ragu…
Karena kerajaanku adalah kerajaan batu, tak ada tempat lagi buat malu, apalagi sendu

Karena sendu hanya bagi mereka yang tertatih menuju tiang pancangku, karena lidah mereka yang terlalu..

Di kerajaanku darah adalah embun, yang tiap pagi meretas di ladang kebun,

Di kerajaanku tangis adalah dendang, yang selalu melenggang dalam gendang, maka jangan pernah kau buka gendang..!

Biarlah yang jelata yang selalu membuka gendang telinga…

Jangan pernah kau tanya tentang nyawa di kerajaanku, karena nyawa hanya milik mereka yang kuasa, selaksa nyawa jelata tiada guna…

Tanyakan saja padaku, apa itu perang.
Karena perang adalah agamaku, senjata adalah surat-suratku, dan desing peluru adalah ayatku..

Jangan pernah kau tanya rakyatku apa itu kaya, karena kaya hanya milikku,
Tanyakan saja pada mereka apa itu lapar, apa itu kapar..

Biarlah yang jelata yang menggelepar dalam kapar

Dan bila saat tiba kau mau,
Jangan pernah ragu menjual kerajaanku,
Karena bagi mereka yang tahu, kerajaan ku adalah tempat segala bertumpu

Karena kerajaanku adalah kerajaan batu..

 

Banda Aceh, 9 April 2006

March 30, 2006

anak tenda

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 5:50 am

Anak tenda

Ayah, kemana bunda pergi?
Bundamu pergi menuju pelangi bersama pagi, saat kau masih bermimpi
Bundamu pergi berteman peri
Bundamu pergi membawa sejuta pedih hati

Bunda, kapan ayah pulang?
Ayahmu pulang saat sepertiga malam datang,
Ayahmu pulang saat doa melayang dalam remang,
Ayahmu pulang setiap kita mengingatnya dalam erang

Abang, dimana rumah kita ?
Rumah kita di tepian pesisir, kaki-kaki langit dan hamparan savana
Rumah kita adalah samudra, tempat ayah dan bunda bertahta
Rumah kita adalah kesederhanaan jiwa yang terluka
 

Tapi kenapa kita masih tinggal di tenda?
Karena tenda adalah istana jiwa kita,
Karena tenda kita hanyalah rumah raga, tempat kita membuang dera
Karena tenda kita adalah tempat membasuh luka, menelan siksa

Kakak, hari ini kita makan apa?
Kita makan sabda mereka, yang suka menghias muka
Kita makan seribu kata, tanpa makna
Kita makan tanpa bejana, tanpa rasa, tanpa merana

Tuan-tuan, kenapa kalian saling berdebat?
Agar kalian saling berjabat, saling selamat
Agar kalian saling merapat, tak lagi saling khianat
Agar kalian menghilangkan hujat, tak lagi saling mengumpat

 Tapi kenapa kami masih melarat, masih sekarat, tenda kami semakin berkarat, derita yang terus melekat, makan sekerat demi sekerat sampai kami kehabisan urat..

 
Tenanglah nak, tinggal saja di tenda,
karena rumah kita adalah ladang mereka,
rumah kita adalah tawanan mereka
rumah kita adalah hidup mereka

Tenanglah nak, jangan banyak bertanya,
karena bahasa mereka bukan bahasa kita,
bahasa kita adalah jiwa, bahasa mereka adalah tinta,
bahasa kita adalah derita,   bahasa mereka adalah harta

bahasa kita adalah cinta, bahasa mereka adalah senjata

 

Banda Aceh, Maret 2006

March 16, 2006

Suatu senja…

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 4:33 pm

Suatu senja di Ulee Lheue*

Temaram senja menghampar petang,
sejauh mata pandang, kilau mentari jingga dalam bentang, membuai angan dalam kenang…

Dibelakang untaian keindahan itu,
Sejuta reruntuhan tenggelam dalam keruh, berteriak dalam serak Seakan ingin berkisah

“lima belas purnama yang lalu, kami lah yang paling gagah,
lima belas purnama yang lalu kami hidup dan menghidupi,
lima belas purnama yang lalu, kami lah surga dunia yang mengharubiru cinta fana muda

kamilah dermaga mereka yang membentang layar, mengayuh biduk dan mengail asa,

hingga gelombang awan samudra menghujam…
kuasa Ilahi menjemput kami,

entah marah, entah luka entah cinta, entah…

adzab bagi mereka yang kianat,
peringatan bagi mereka yang alpa
cobaan bagi mereka yang ingat,

surga bagi mereka yang jihad.

Disaat mereka bertutur dengan mesiu,
berucap salam dengan senapan, atas nama umat,

yang semakin lumat
mana taat, mana laknat, tak lagi tersekat…

Kini, belasan purnama terentang kami masih tertidur dalam runtuh,

Meski ribuan orang seberang bergelimang,

Kami masih reruntuhan…
Dimana asa yang pernah terentang?
Ketika tangan mereka terayun,
Kami masih reruntuhan…
Tak lagi ingat teduhnya atap,
tak lagi ingat terangnya benderang, namun genderang masih berperang, seperti kami, masih reruntuhan yang sama,
masa perlahan memalingkan muka mereka, yang semakin ingkar,
kunang kunang dari seberang, berlomba saling memancar, digulita malam kami,
masih reruntuhan yang sama,”

Banda Aceh, Maret 2006 *Ulee Lheue adalah salah satu pelabuhan dan tempat wisata di Banda Aceh, terparah kerusakannya karena tsunami.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King