televisi
Televisi hari ini
Aku mematung didepan televisi, hari ini sepertinya televisiku menderita sekali..
Pagi tadi, luapan lumpur keluar dari kedua kupingnya yang tak lagi seimbang kiri dan kanan.
Tak lama kemudian hidungnya yang pesek tersedak gumpalan asap tebal yang terhembus entah dari mana. Tak mungkin dari asap rokok murahan yang aku hisap..
Dan tiba-tiba…
Tabung televisiku meledak, mungkin tak kuat menahan gendang telinganya yang penuh lumpur panas…
Lalu segerombolan orang-orangan sawah berlarian dari dalam tabung televisiku…
Mereka berduyun-duyun membawa gembolan kain, menarik gerobak, bahkan ada yang menggotong rumah-rumah mereka..
Aku mencibir..
Huh, kemana mereka akan pergi?
“Tak ada lagi tempat aman bung..!,” aku berteriak ketus..
Belum lama televisiku berhenti dari batuk-batuk karena asap,
Angin kencang datang menggoyang televisiku yang sudah compang-camping
Untungnya kakinya yang pincang sebelah masih mampu menahan goyangan puting beliung itu..
Akhirnya televisiku bisa sedikit tersenyum,
Ketika perempuan-perempuan cantik setengah telanjang menghampiri tabungnya yang sudah bolong separuh.
Mereka asyik bercerita tentang laki-laki yang berebut perempuan, perempuan-perempuan yang rebutan laki-laki dan suami-istri yang rebutan anak…
Hingga televisiku pusing mendengarnya dan mengusir mereka…
Setelah perempuan-perempuan itu pergi, kini giliran gelombang air bah bertamu,
Televisiku berenang-renang di pusaran air yang berwarna coklat,
Kupingnya yang sudah tak lagi seimbang kiri dan kanan kini, hilang sebelah, hanyut bersama air bah yang datang tak diundang
Orang-orangan sawah yang tadi berlarian dari tabung televisiku, kini berhambur kembali masuk ke lubang yang menganga di tabung itu..
Mereka takut pergi ke kota, karena tak punya KTP dan khawatir kena gusur..
Sekarang mereka malah sembunyi dibalik tabung televisiku yang sudah bolong separo..
Sekonyong-konyong terdengar dari sebelah rumah, anak tetanggaku yang masih TK bersajak:
“Tanah air ku, kini bersatu menjadi lumpur…..”
28 November 2006
