jejak kata

November 26, 2006

puisi yang terluka

Filed under: Gejolak - diksi @ 6:26 am

 
aku hanyalah puisi yang terluka,
namun puisi terlanjur mencinta syair
kemana puisi akan bersyair, saat kata tak lagi memakna
gejolak yang menggegas kabur dalam pandang ragu,

 ingin kembali kugali, makam sebuah hati
yang menyatu bersama deru masa lalu

namun langkah harus gontai mengekang asa,
sementara rumput kering tak akan pernah berubah menjadi mawar,
pun untuk apa mawar?
jika yang tumbuh hanyalah taji duri,
yang selalu siap melukai sayap sang merpati, yang terbang tak kenal diri
lalu jatuh diatas makam sebuah hati…
disitulah waktu telah menguburkan rasa,
bersama hati yang meruangi,
yang kembali ingin meronta pergi,

namun untuk apa melangkah? Jika harus kembali lunglai,
tersungkur
mati karena hati,

mengapa tak tertinggal saja hati,
saat memulai hari..
dan tak kan lagi hilang kendali,
dan jarak tak kan lagi menghantui,

 tapi hati tetaplah hati,
menyatu dengan misteri
tentang kemana akan bertepi,
tentang mengapa justru berseri,
saat seharusnya mencaci

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://diksi.blogsome.com/2006/11/26/puisi-yang-terluka/trackback/

  1. HIhihi, dalem banget. Sesuai dengan apa yang pernah gw rasakan. Tapi kalau gw, buat apa hidup? Kalau hidup membosankan…

    Comment by Heni — November 28, 2006 @ 9:44 am

  2. hati emang penuh misteri om…
    kadang ada sesuatu yang ilang … saat seharusnya aku bahagia
    kadang ada suatu kelegaan … saat seharusnya aku bersedih
    bingung… aku om!

    Comment by Farhan — November 30, 2006 @ 8:45 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King