puisi yang terluka
aku hanyalah puisi yang terluka,
namun puisi terlanjur mencinta syair
kemana puisi akan bersyair, saat kata tak lagi memakna
gejolak yang menggegas kabur dalam pandang ragu,
ingin kembali kugali, makam sebuah hati
yang menyatu bersama deru masa lalu
namun langkah harus gontai mengekang asa,
sementara rumput kering tak akan pernah berubah menjadi mawar,
pun untuk apa mawar?
jika yang tumbuh hanyalah taji duri,
yang selalu siap melukai sayap sang merpati, yang terbang tak kenal diri
lalu jatuh diatas makam sebuah hati…
disitulah waktu telah menguburkan rasa,
bersama hati yang meruangi,
yang kembali ingin meronta pergi,
namun untuk apa melangkah? Jika harus kembali lunglai,
tersungkur
mati karena hati,
mengapa tak tertinggal saja hati,
saat memulai hari..
dan tak kan lagi hilang kendali,
dan jarak tak kan lagi menghantui,
tapi hati tetaplah hati,
menyatu dengan misteri
tentang kemana akan bertepi,
tentang mengapa justru berseri,
saat seharusnya mencaci

HIhihi, dalem banget. Sesuai dengan apa yang pernah gw rasakan. Tapi kalau gw, buat apa hidup? Kalau hidup membosankan…
Comment by Heni — November 28, 2006 @ 9:44 am
hati emang penuh misteri om…
kadang ada sesuatu yang ilang … saat seharusnya aku bahagia
kadang ada suatu kelegaan … saat seharusnya aku bersedih
bingung… aku om!
Comment by Farhan — November 30, 2006 @ 8:45 am