senja
Senja di kotaku
Aku ingin merangkai seribu puisi, yang kutulis diatas dedaun beringin tua yang tak jemu bertengger di pusat alun-alun,
kemudian memanggil burung-burung yang selalu berkunjung ke lengan kokoh sang beringin disilam waktu,
tapi kini kotaku selalu sepi,
dari burung-burung yang menemani kala senja, menyertai cinta bau kencur anak muda
dan dedaun beringin tuapun mulai berguguran tersengat arus waktu,
lalu kemana aku harus menuliskan puisi?
Kini senja perlahan membunuh kota indahku, seiring muda – mudi yang menjejal di sudut-sudut bunderan.. mereka yang mengatasnamakan cinta.
Pelukis yang biasa melukis langit tak tahu lagi kemana menggores kanvas,
karena langit telah muram tertelan tinggi gedung – gedung angkuh ,
pelangi yang biasa menemani langit pun kehilangan warna
lalu kemana lagi lukisan harus tergores?
Kidung senja yang dulu meriungi sudut – sudut benteng kehidupan, kini sembunyi dibalik hingar jalan. Mengiringi tarian gadis setengah jalang disela-sela asap rokok..
Oh, masih adakah gadisku yang dulu bersanggul mawar dan berkebaya cinta?
Yang selalu menyembunyikan teduh dibalik tatapnya…
Oh, masih adakah reriungan malam yang memanggil nirwana di pendapa jiwa ?
Yang selalu melauti jiwa dengan seroja
Dan getar bumi yang pernah singgah dipekarangan kota ku,
Tak juga menyisakan tanya, mengapa pagi itu begitu sunyi?
Lirih perih tak juga membawa kepada bajik.
Oh, dimanakah para pujangga yang dulu berguru kepada bijak.
Ataukah kotaku telah bebal tak sanggup lagi menanggung ajal
Mengapa justru lautan dusta yang menggenangi megah alun-alun itu
Syair cinta yang dulu membahana di ruang jiwa, kini menyatu bersama dengus nafas di balik bilik
Pagiku enggan menggantikan malam, karena kotaku yang semakin menyempit,
terpaksa harus megundang matahari mendekati nadi
Para pekerja tua tak tahu lagi kemana harus memungut uangnya, karena tak lagi memiliki lorong
Dan penyairpun tak tau lagi kemana harus mengalamatkan syair
Dari Banda untuk Jogja.
30 November 2006
