jejak kata

November 30, 2006

senja

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 8:40 am

Senja di kotaku  

Aku ingin merangkai seribu puisi, yang kutulis diatas dedaun beringin tua yang tak jemu bertengger di pusat alun-alun,
kemudian memanggil burung-burung yang selalu berkunjung ke lengan kokoh sang beringin disilam waktu,
tapi kini kotaku selalu sepi,
dari burung-burung yang menemani kala senja, menyertai cinta bau kencur anak muda
dan dedaun beringin tuapun mulai berguguran tersengat arus waktu,
lalu kemana aku harus menuliskan puisi?

Kini senja perlahan membunuh kota indahku, seiring muda – mudi yang menjejal di sudut-sudut bunderan.. mereka yang mengatasnamakan cinta.
Pelukis yang biasa melukis langit tak tahu lagi kemana menggores kanvas,
karena langit telah muram tertelan tinggi gedung – gedung angkuh ,
pelangi yang biasa menemani langit pun kehilangan warna
lalu kemana lagi lukisan harus tergores?

Kidung senja yang dulu meriungi sudut – sudut benteng kehidupan, kini sembunyi dibalik hingar jalan. Mengiringi tarian gadis setengah jalang disela-sela asap rokok..
Oh, masih adakah gadisku yang dulu bersanggul mawar dan berkebaya cinta?
Yang selalu menyembunyikan teduh dibalik tatapnya…
Oh, masih adakah reriungan malam yang memanggil nirwana di pendapa jiwa ?
Yang selalu melauti jiwa dengan seroja

Dan getar bumi yang pernah singgah dipekarangan kota ku,
Tak juga menyisakan tanya, mengapa pagi itu begitu sunyi?
Lirih perih tak juga membawa kepada bajik.
Oh, dimanakah para pujangga yang dulu berguru kepada bijak.
Ataukah kotaku telah bebal tak sanggup lagi menanggung ajal

Mengapa justru lautan dusta yang menggenangi megah  alun-alun itu
Syair cinta yang dulu membahana di ruang jiwa, kini menyatu bersama dengus nafas di balik bilik
Pagiku enggan menggantikan malam, karena kotaku yang semakin menyempit,
terpaksa harus megundang matahari mendekati nadi

Para pekerja tua tak tahu lagi kemana harus memungut uangnya, karena tak lagi memiliki lorong
Dan penyairpun tak tau lagi kemana harus mengalamatkan syair

Dari Banda untuk Jogja.

30 November 2006

November 29, 2006

televisi

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 6:33 am

Televisi hari ini

Aku mematung didepan televisi, hari ini sepertinya televisiku menderita sekali..
Pagi tadi, luapan lumpur keluar dari kedua kupingnya yang tak lagi seimbang kiri dan kanan.
Tak lama kemudian hidungnya yang pesek tersedak gumpalan asap tebal yang terhembus entah dari mana. Tak mungkin dari asap rokok murahan yang aku hisap..

Dan tiba-tiba…
Tabung televisiku meledak, mungkin tak kuat menahan gendang telinganya yang penuh lumpur panas…
Lalu segerombolan orang-orangan sawah berlarian dari dalam tabung televisiku…
Mereka berduyun-duyun membawa gembolan kain, menarik gerobak, bahkan ada yang menggotong rumah-rumah mereka..
Aku mencibir..
Huh, kemana mereka akan pergi?
“Tak ada lagi tempat aman bung..!,” aku berteriak ketus..

Belum lama televisiku berhenti dari batuk-batuk karena asap,
Angin kencang datang menggoyang televisiku yang sudah compang-camping
Untungnya kakinya yang pincang sebelah masih mampu menahan goyangan puting beliung itu..

Akhirnya televisiku bisa sedikit tersenyum,
Ketika perempuan-perempuan cantik setengah telanjang menghampiri tabungnya yang sudah bolong separuh.
Mereka asyik bercerita tentang laki-laki yang berebut perempuan, perempuan-perempuan yang rebutan laki-laki dan suami-istri yang rebutan anak…
Hingga televisiku pusing mendengarnya dan mengusir mereka…

Setelah perempuan-perempuan itu pergi, kini giliran gelombang air bah bertamu,
Televisiku berenang-renang di pusaran air yang berwarna coklat,
Kupingnya yang sudah tak lagi seimbang kiri dan kanan kini, hilang sebelah, hanyut bersama air bah yang datang tak diundang

Orang-orangan sawah yang tadi berlarian dari tabung televisiku, kini berhambur kembali masuk ke lubang yang menganga di tabung itu..
Mereka takut pergi ke kota, karena tak punya KTP dan khawatir kena gusur..
Sekarang mereka malah sembunyi dibalik tabung televisiku yang sudah bolong separo..

Sekonyong-konyong terdengar dari sebelah rumah, anak tetanggaku yang masih TK bersajak:
“Tanah air ku, kini bersatu menjadi lumpur…..”

28 November 2006

celoteh

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 6:31 am

Celoteh pagi

Pagi ini ibu menanak pasir, seperti hari-hari biasanya, tapi pasir pagi ini berasal dari halaman tetangga sebelah. Pasir kami sendiri sudah habis, hanyut saat hujan awal bulan ini.
Warti, adikku yang terkecil sedang menumbuk batu bata, sebentar lagi dipakainya untuk gosok gigi.
Aku sendiri hanya mengumpulkan sedikit gedhek bambu, memotongnya bulat-bulat untuk kujadikan piring.
Sambil menunggu ibu menanak pasir.

Sementara ayah mengintip dari balik makam, disebelah tenda kami yang terbuka sebagian.
Belum lama ayah menempati makam itu, kami sebenarnya keberatan ayah selalu terjaga mengawasi kami dari makam itu.
Tapi tak ada yang berani menolak wasiat terakhir seseorang menjelang ajal, apalagi itu ayah..
Dan tak jauh dari ayah, Ningsih pun ikut-ikutan mengawasi dari balik gundukan tanah..
Ah, Ningsih, begitu cepat ia meninggalkan aku, laki-laki pujaan hatinya.
Ningsih ikut menari bersama tarian bumi pagi itu, dan menyatu bersama batu-bata yang sekarang untuk gosok gigi adikku..

Hari ini ada berita besar, orang kota datang bagi-bagi uang..!!!
Tapi untuk apa uang?
Kami sudah terbiasa makan pasir, minum air genangan hujan, gosok gigi dengan bubuk batu bata, mandi dengan batu hitam runtuhan gempa..

Katanya uang itu untuk membangun rumah…!!!
Ah, untuk apa rumah?
tenda kami lebih luas, lihat saja halamannya seluas ini, seluas satu kampung di kota

Adikku, selesai sarapan, kemudian mematahkan beberapa runtuhan besi bangunan untuk dijadikan pensil disekolah..
Sebelum berangkat, dia menalikan genteng dikakinya untuk dijadikan sepatu…
Kemudian berangkat boncengan dengan temannya mengendarai kusen jendela, yang teronggok di dekat kubangan sampah…

Hari ini awan gelap berkunjung di atas tenda kami,
Tak lama lagi pasti teman-temannya datang membawa hujan,

Aku ingin kembali tidur, sambil memeluk balok jati bekas tiang penyangga joglo
Siapa tahu Ningsih masih menunggu dalam tidurku…

28 November 2006

November 26, 2006

puisi yang terluka

Filed under: Gejolak - diksi @ 6:26 am

 
aku hanyalah puisi yang terluka,
namun puisi terlanjur mencinta syair
kemana puisi akan bersyair, saat kata tak lagi memakna
gejolak yang menggegas kabur dalam pandang ragu,

 ingin kembali kugali, makam sebuah hati
yang menyatu bersama deru masa lalu

namun langkah harus gontai mengekang asa,
sementara rumput kering tak akan pernah berubah menjadi mawar,
pun untuk apa mawar?
jika yang tumbuh hanyalah taji duri,
yang selalu siap melukai sayap sang merpati, yang terbang tak kenal diri
lalu jatuh diatas makam sebuah hati…
disitulah waktu telah menguburkan rasa,
bersama hati yang meruangi,
yang kembali ingin meronta pergi,

namun untuk apa melangkah? Jika harus kembali lunglai,
tersungkur
mati karena hati,

mengapa tak tertinggal saja hati,
saat memulai hari..
dan tak kan lagi hilang kendali,
dan jarak tak kan lagi menghantui,

 tapi hati tetaplah hati,
menyatu dengan misteri
tentang kemana akan bertepi,
tentang mengapa justru berseri,
saat seharusnya mencaci

November 16, 2006

mati..?

Filed under: KOntemPlasI - diksi @ 11:40 am

dan
congkal batu karang itu pun luruh..
bersama kilas malam dan rinai tawa 

yang pernah meniti hari bersulam janji
kini waktu telah menjagal jiwa
menikam tumbang kesombongan

ternyata,
mati hati hanya ilusi
dan kebahagiaan yang tak terucap,
masihlah kutukan di fajar pagi

kembali,
lantunan itu berujung elegi,
tentang sepotong hati disudut sepi,
 

 

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King