pengungsi abadi
Pengungsi abadi
Entah apa aku harus menamakan kalian, para pemukim..
Kuberi nama kota tapi kalian tak bercahaya
Kusebut desa tapi kalian tak bersawah
Kupanggil kau pengungsi, namun derita kalian nyaris abadi
Tenda-tenda yang dulu sahabat, kinipun telah khianat, memagut kala gelap
siang malam menusuk tulang, pagi mengikis kulit, siang memanggang kepala..
ingin ku menjadi hujan, yang membaluri tenda kalian
Namun raga tak kuasa bersenyawa
Ingin ku menjadi lilin, yang menemani alunan mimpi
Namun batin tak kuasa memimpin
Andaikan kata mampu membasuh lara
Andaikan syair mampu menggantikan bulir
Bulir padi, bulir air, dan bulir angin semilir
Ratusan kali mentari menghindari rembulan,
Air mata masih air mata, tak pernah berganti rupa mata air
Mata air kalian adalah debu pesisir, tempat raga mereka mengalir
Mereka yang hidup di lain alam, mewarta khabar tentang kelam
Kelam donya tak selalu kelam nirwana,
Ditepian gemulai pantai, adalah mural kehidupan,
Padas batu menjulang gunung,
Saksi mati mata hati
kala raga berjuang memandu nyawa
yang tak kuasa pun dipanggilNya,
entah harus kuberi nama apa, kalian para pemukim..
dibelikat bukit kau berteman penyakit
banda aceh, 16 april 2006
