jejak kata

April 30, 2006

Pulang kali ini…

Filed under: KOntemPlasI - diksi @ 6:14 am

Pulang kali ini… Pulang selalu menjadi sesuatu yang indah, tak peduli berapapun ‘biaya’ yang harus dikeluarkan. biaya tak selalu berarti uang, bisa berupa segala aktivitas yang dikorbankan untuk pulang.. Pulang adalah kembali di mana titik sebuah perjalanan dimulai…bisa jadi kembali ke peradaban semula.. ah, Peradaban, sesuatu yang sangat relatip. -peradaban di Banda Aceh, jauh berbeda dengan, Jakarta maupun Jogja peradaban di Aceh berarti mondar-mandirnya mobil2 mewah milik NGO, kehidupan memprihatinkan di barak - barak dan tenda - tenda pengungsi, peradaban di Jakarta adalah kesibukan hampir 24 jam para pekerja kantor, buruh dan mereka yang larut di kehidupan malam peradaban di Jogja tak lebih dari persinggahan mereka yang mencari ilmu untuk masa depan versi masing2.. Sekian kali aku pulang dari perjalanan, dan kini pulang lagi… kembali ke rengkuh senyum wanita yang mengukir jiwa raga, sebuah ketulusan suci tak ada banding…

April 16, 2006

pengungsi abadi

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 4:40 pm

Pengungsi abadi

Entah apa aku harus menamakan kalian, para pemukim..
Kuberi nama kota tapi kalian tak bercahaya
Kusebut desa tapi kalian tak bersawah
Kupanggil kau pengungsi, namun derita kalian nyaris abadi
Tenda-tenda yang dulu sahabat, kinipun telah khianat, memagut kala gelap
siang malam menusuk tulang, pagi mengikis kulit, siang memanggang kepala..

ingin ku menjadi hujan, yang membaluri tenda kalian
Namun raga tak kuasa bersenyawa
Ingin ku menjadi lilin, yang menemani alunan mimpi
Namun batin tak kuasa memimpin

Andaikan kata mampu membasuh lara
Andaikan syair mampu menggantikan bulir
Bulir padi, bulir air, dan bulir angin semilir

Ratusan kali mentari menghindari rembulan,
Air mata masih air mata, tak pernah berganti rupa mata air
Mata air kalian adalah debu pesisir, tempat raga mereka mengalir
Mereka yang hidup di lain alam, mewarta khabar tentang kelam
Kelam donya  tak selalu kelam nirwana,

Ditepian gemulai pantai, adalah mural kehidupan,
Padas batu menjulang gunung,
Saksi mati mata hati
kala raga berjuang memandu nyawa
yang tak kuasa pun dipanggilNya,
entah harus kuberi nama apa, kalian para pemukim..
dibelikat bukit kau berteman penyakit

 
banda aceh, 16 april 2006

April 10, 2006

kerajaan batu

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 6:06 pm

Surat wasiat

Dengan ini  Kuwariskan padamu kerajaan batu, tempat berkomplotnya para penipu.Tapi mereka tak pernah mampu menipu Aku, karena Akulah raja tipu.
Dengan ini Kuwariskan padamu sejuta nikmat, bersama mereka, para tukang lumat. Tapi mereka tak pernah mampu melumat Aku, karena Akulah adalah raja lumat..

Di kerajaanku tak seorang pun berani berlagu, karena rakyatku selalu diam seribu.
Di kerajaanku tak seorang pun berani bertalu, karena nyawa rakyatku adalah kendaliku.

Mereka yang jelata, biarlah melata menahan celaka, meratapi petaka..
Mereka yang mulia, biarlah bertahta tiara, bermandikan cendana
Karena kerajaanku adalah kerajaan batu, tak mempan peluru apalagi sembilu,

Biarlah yang jelata diterjang peluru, mereka yang piatu, bukan ratu..

Dengan ini Kuwariskan padamu ayat-ayat dustaku, bersama mereka para pendusta. Tapi mereka tak pernah mampu mendusta Aku, karena Akulah raja dusta.

Dengan ini Kuwariskan sejuta malu, yang tak lagi ada di uratku, karena malu hanya milik mereka yang ragu…
Karena kerajaanku adalah kerajaan batu, tak ada tempat lagi buat malu, apalagi sendu

Karena sendu hanya bagi mereka yang tertatih menuju tiang pancangku, karena lidah mereka yang terlalu..

Di kerajaanku darah adalah embun, yang tiap pagi meretas di ladang kebun,

Di kerajaanku tangis adalah dendang, yang selalu melenggang dalam gendang, maka jangan pernah kau buka gendang..!

Biarlah yang jelata yang selalu membuka gendang telinga…

Jangan pernah kau tanya tentang nyawa di kerajaanku, karena nyawa hanya milik mereka yang kuasa, selaksa nyawa jelata tiada guna…

Tanyakan saja padaku, apa itu perang.
Karena perang adalah agamaku, senjata adalah surat-suratku, dan desing peluru adalah ayatku..

Jangan pernah kau tanya rakyatku apa itu kaya, karena kaya hanya milikku,
Tanyakan saja pada mereka apa itu lapar, apa itu kapar..

Biarlah yang jelata yang menggelepar dalam kapar

Dan bila saat tiba kau mau,
Jangan pernah ragu menjual kerajaanku,
Karena bagi mereka yang tahu, kerajaan ku adalah tempat segala bertumpu

Karena kerajaanku adalah kerajaan batu..

 

Banda Aceh, 9 April 2006

dialektika

Filed under: KOntemPlasI - diksi @ 6:05 pm

 KOntemPlasI

Aku termenung, mendengarkan dialektika hati, sekian lama sulit benar kudengar suara hati, benar kata orang mendengar jauh lebih sulit dari berbicara bahkan untuk mendengar suara hati sendiri pun begitu sulit…apalagi melakukan apa yang mampu kita dengar,

Ternyata menyukai apa yang kita lakukan jauh lebih sulit daripada melakukan apa yang kita sukai…

Dialektika hati dan akal seakan tak pernah ada habisnya, sungguh mulia Sang Maha Pencipta, yang menciptakan hati untuk menemani akal, sebuah prosesi abadi daya nalar manusia, Pernahkah kita bertanya apa jadinya jika manusia hanya di karuniai akal tanpa hati, ataupun sebaliknya..

Meskipun secara ruhaniah, mampukah kita membedakan suara hati,-perasaan dan suara akal,-logika..
Pun kenapa pula kita sering memilah antara hati dan akal, dalam acap pengambilan keputusan, kenapa tidak kita satukan hati dan akal, menjadi jiwa..
Karena acap kali kita tertipu, ketika memutuskan sesuatu seakan berdasarkan suara hati, ternyata itu adalah manipulasi akal,-logika..
Secara fisik, jelas antara hati, yang notabene adalah jantung, dan akal jelas adalah otak, secara mudah dapat kita pilahkan letak dan anatominya, namun secara rohaniah, yang terjadi di benak, sebuah paradoks antara hati,- perasaan dan akal,-logika, adalah absurd.

 
"Ukuran tubuhmu tidak penting; ukuran otakmu cukup penting; ukuran hatimulah yang terpenting"
-BC Gorbes

 
“tiadakah mereka melakukan perjalanan dimuka bumi, sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka merasa, dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Sungguh, bukanlah matanya yang buta, tetapi hati yang ada dalam (rongga dada)”.
-QS Al Hajj 22:46

 “…Ia memberi hikmah kepada siapa ia berkenan. Dan barang siapa yang diberi-Nya hikmah, kepadanya telah diberikan kebaikan melimpah. Namun, tiada yang mengambil peringatan, kecuali orang yang mempunyai pikiran..”

-QS Al Baqarah 2:269

April 2, 2006

Ruang Jiwa

Filed under: Gejolak - diksi @ 5:24 pm

Ruang jiwa

 Kau bawa aku ke sudut ruang jiwa, bertanya tanya tentang senyawa,
aku terpagut dalam rasa, yang telah kau hapus dalam kata.
Ku hitung angka almanak, tetap saja tak pernah melonjak,
menunggu saat ku luapkan sajak.Ah, waktu malah semakin rangkak

Ditepian asa yang kususuri, jelaga yang kudapati
Disetiap jejak yang ku lacak, ada gelak yang terserak, kau tak juga retak,
Telah kau repihkan serpih langkah langkah letih, yang selalu terucap dalam lirih
“jangan pernah berucap cinta”, karena cinta hanya akan membuta
tak pernah kutanya mengapa, karena yang kau sisakan adalah ruang jiwa
yang cukup lama terlupa, terpupus langkah kembara, meski rasa selalu butuh kata

Kucoba rangkai mahkota, yang pernah ku buang dalam kenang masa,
saat gejoka rasa adalah raja, tak juga pernah kau tanya mengapa,
karena kau sendiri adalah tanya


Kau bawa pelita saat ku mencari kejora, dan aku pun berhitung akan masa
Masa yang telah menista jiwa muda, menyamar dalam riuh tawa, yang kini tertinggal dalam keranda,

Dalam setiap kata yang coba kita susun, masih saja saling beruntun.
Ah, itu biasa untuk sebuah lantun, 

Dalam setiap lembar kelana yang kuraba, kusisihkan setiap makna,
tak juga pernah kau tanya siapa, karena kau sendiri adalah makna
Dalam setiap tanyaku akan rasa, kau jawab dengan irama
Dalam setiap resahku akan asa, kau kebaskan dengan doa,

Disetiap penjuru waktu yang kini berpadu,
kuleburkan dalam tuju, membuang segala rancu


Dan kau pun berdiri diujung waktu…

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King