jejak kata

March 30, 2006

anak tenda

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 5:50 am

Anak tenda

Ayah, kemana bunda pergi?
Bundamu pergi menuju pelangi bersama pagi, saat kau masih bermimpi
Bundamu pergi berteman peri
Bundamu pergi membawa sejuta pedih hati

Bunda, kapan ayah pulang?
Ayahmu pulang saat sepertiga malam datang,
Ayahmu pulang saat doa melayang dalam remang,
Ayahmu pulang setiap kita mengingatnya dalam erang

Abang, dimana rumah kita ?
Rumah kita di tepian pesisir, kaki-kaki langit dan hamparan savana
Rumah kita adalah samudra, tempat ayah dan bunda bertahta
Rumah kita adalah kesederhanaan jiwa yang terluka
 

Tapi kenapa kita masih tinggal di tenda?
Karena tenda adalah istana jiwa kita,
Karena tenda kita hanyalah rumah raga, tempat kita membuang dera
Karena tenda kita adalah tempat membasuh luka, menelan siksa

Kakak, hari ini kita makan apa?
Kita makan sabda mereka, yang suka menghias muka
Kita makan seribu kata, tanpa makna
Kita makan tanpa bejana, tanpa rasa, tanpa merana

Tuan-tuan, kenapa kalian saling berdebat?
Agar kalian saling berjabat, saling selamat
Agar kalian saling merapat, tak lagi saling khianat
Agar kalian menghilangkan hujat, tak lagi saling mengumpat

 Tapi kenapa kami masih melarat, masih sekarat, tenda kami semakin berkarat, derita yang terus melekat, makan sekerat demi sekerat sampai kami kehabisan urat..

 
Tenanglah nak, tinggal saja di tenda,
karena rumah kita adalah ladang mereka,
rumah kita adalah tawanan mereka
rumah kita adalah hidup mereka

Tenanglah nak, jangan banyak bertanya,
karena bahasa mereka bukan bahasa kita,
bahasa kita adalah jiwa, bahasa mereka adalah tinta,
bahasa kita adalah derita,   bahasa mereka adalah harta

bahasa kita adalah cinta, bahasa mereka adalah senjata

 

Banda Aceh, Maret 2006

March 16, 2006

Suatu senja…

Filed under: Saksi Mata - diksi @ 4:33 pm

Suatu senja di Ulee Lheue*

Temaram senja menghampar petang,
sejauh mata pandang, kilau mentari jingga dalam bentang, membuai angan dalam kenang…

Dibelakang untaian keindahan itu,
Sejuta reruntuhan tenggelam dalam keruh, berteriak dalam serak Seakan ingin berkisah

“lima belas purnama yang lalu, kami lah yang paling gagah,
lima belas purnama yang lalu kami hidup dan menghidupi,
lima belas purnama yang lalu, kami lah surga dunia yang mengharubiru cinta fana muda

kamilah dermaga mereka yang membentang layar, mengayuh biduk dan mengail asa,

hingga gelombang awan samudra menghujam…
kuasa Ilahi menjemput kami,

entah marah, entah luka entah cinta, entah…

adzab bagi mereka yang kianat,
peringatan bagi mereka yang alpa
cobaan bagi mereka yang ingat,

surga bagi mereka yang jihad.

Disaat mereka bertutur dengan mesiu,
berucap salam dengan senapan, atas nama umat,

yang semakin lumat
mana taat, mana laknat, tak lagi tersekat…

Kini, belasan purnama terentang kami masih tertidur dalam runtuh,

Meski ribuan orang seberang bergelimang,

Kami masih reruntuhan…
Dimana asa yang pernah terentang?
Ketika tangan mereka terayun,
Kami masih reruntuhan…
Tak lagi ingat teduhnya atap,
tak lagi ingat terangnya benderang, namun genderang masih berperang, seperti kami, masih reruntuhan yang sama,
masa perlahan memalingkan muka mereka, yang semakin ingkar,
kunang kunang dari seberang, berlomba saling memancar, digulita malam kami,
masih reruntuhan yang sama,”

Banda Aceh, Maret 2006 *Ulee Lheue adalah salah satu pelabuhan dan tempat wisata di Banda Aceh, terparah kerusakannya karena tsunami.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King