anak tenda
Anak tenda
Ayah, kemana bunda pergi?
Bundamu pergi menuju pelangi bersama pagi, saat kau masih bermimpi
Bundamu pergi berteman peri
Bundamu pergi membawa sejuta pedih hati
Bunda, kapan ayah pulang?
Ayahmu pulang saat sepertiga malam datang,
Ayahmu pulang saat doa melayang dalam remang,
Ayahmu pulang setiap kita mengingatnya dalam erang
Abang, dimana rumah kita ?
Rumah kita di tepian pesisir, kaki-kaki langit dan hamparan savana
Rumah kita adalah samudra, tempat ayah dan bunda bertahta
Rumah kita adalah kesederhanaan jiwa yang terluka
Tapi kenapa kita masih tinggal di tenda?
Karena tenda adalah istana jiwa kita,
Karena tenda kita hanyalah rumah raga, tempat kita membuang dera
Karena tenda kita adalah tempat membasuh luka, menelan siksa
Kakak, hari ini kita makan apa?
Kita makan sabda mereka, yang suka menghias muka
Kita makan seribu kata, tanpa makna
Kita makan tanpa bejana, tanpa rasa, tanpa merana
Tuan-tuan, kenapa kalian saling berdebat?
Agar kalian saling berjabat, saling selamat
Agar kalian saling merapat, tak lagi saling khianat
Agar kalian menghilangkan hujat, tak lagi saling mengumpat
Tapi kenapa kami masih melarat, masih sekarat, tenda kami semakin berkarat, derita yang terus melekat, makan sekerat demi sekerat sampai kami kehabisan urat..
Tenanglah nak, tinggal saja di tenda,
karena rumah kita adalah ladang mereka,
rumah kita adalah tawanan mereka
rumah kita adalah hidup mereka
Tenanglah nak, jangan banyak bertanya,
karena bahasa mereka bukan bahasa kita,
bahasa kita adalah jiwa, bahasa mereka adalah tinta,
bahasa kita adalah derita, bahasa mereka adalah harta
bahasa kita adalah cinta, bahasa mereka adalah senjata
Banda Aceh, Maret 2006
