Celoteh pagi
Pagi ini ibu menanak pasir, seperti hari-hari biasanya, tapi pasir pagi ini berasal dari halaman tetangga sebelah. Pasir kami sendiri sudah habis, hanyut saat hujan awal bulan ini.
Warti, adikku yang terkecil sedang menumbuk batu bata, sebentar lagi dipakainya untuk gosok gigi.
Aku sendiri hanya mengumpulkan sedikit gedhek bambu, memotongnya bulat-bulat untuk kujadikan piring.
Sambil menunggu ibu menanak pasir.
Sementara ayah mengintip dari balik makam, disebelah tenda kami yang terbuka sebagian.
Belum lama ayah menempati makam itu, kami sebenarnya keberatan ayah selalu terjaga mengawasi kami dari makam itu.
Tapi tak ada yang berani menolak wasiat terakhir seseorang menjelang ajal, apalagi itu ayah..
Dan tak jauh dari ayah, Ningsih pun ikut-ikutan mengawasi dari balik gundukan tanah..
Ah, Ningsih, begitu cepat ia meninggalkan aku, laki-laki pujaan hatinya.
Ningsih ikut menari bersama tarian bumi pagi itu, dan menyatu bersama batu-bata yang sekarang untuk gosok gigi adikku..
Hari ini ada berita besar, orang kota datang bagi-bagi uang..!!!
Tapi untuk apa uang?
Kami sudah terbiasa makan pasir, minum air genangan hujan, gosok gigi dengan bubuk batu bata, mandi dengan batu hitam runtuhan gempa..
Katanya uang itu untuk membangun rumah…!!!
Ah, untuk apa rumah?
tenda kami lebih luas, lihat saja halamannya seluas ini, seluas satu kampung di kota
Adikku, selesai sarapan, kemudian mematahkan beberapa runtuhan besi bangunan untuk dijadikan pensil disekolah..
Sebelum berangkat, dia menalikan genteng dikakinya untuk dijadikan sepatu…
Kemudian berangkat boncengan dengan temannya mengendarai kusen jendela, yang teronggok di dekat kubangan sampah…
Hari ini awan gelap berkunjung di atas tenda kami,
Tak lama lagi pasti teman-temannya datang membawa hujan,
Aku ingin kembali tidur, sambil memeluk balok jati bekas tiang penyangga joglo
Siapa tahu Ningsih masih menunggu dalam tidurku…
28 November 2006